Belajar dari Mahasiswa
Hari ini ada bebarapa mahasiswa yang bertemu, keduanya punya relasi yang unik. Pertama, adalah Pak Syukri, dia unik karena usia lebih senior dibanding saya dan semangatnya untuk menimba ilmu dan mengaplikasikannya sangat luar biasa. Dia yang selalu bersemangat berbincang dengan saya mengenai dua hal yang saling berkaitan. Pertama adalah soal proposal disertasinya, dan kedua adalah soal proyek penelitian. Keduanya berkaitan karena dia ingin mengangkat persoalan materi pembelajaran PAI yang menurutnya harus direformasi. Ide besarnya adalah pembelajaran konkrit. Menurutnya, pembelajaran PAI sedapat mungkin harus dapat dicerna oleh siswa, dan karenanya harus dekat dengan dunia siswa. Pembelajaran konkirt bisa dilakukan dengan menyederhanakan materi dan memodifikasi cara penyampaian serta alat peraga yang digunakan. Tentu saja ini memerlukan penelitian lebih lanjut dan karena itulah menarik untuk diteliti.
Kedua, adalah Abd. Syukur. Keunikannya adalah dia merupakan rekan satu angkatan ketika kuliah di S1 dulu. Saat ini, Syukur tengah kuliah S2 dan bersiap menulis thesis. Tantang terberat di awal penulisan tesis adalah menemukan tema yang original dan layak ditulis. Setelah berpusing-pusing menelusuri berbagai kemungkinan tema, Syukur datang dengan sebuh ide cemerlang: Internasionalisasi pendidikan. Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah dalam mneginternasionalisasikan Pendidikan Nasional melalui pemebentukan SBI (sekolah bertaraf internasional) sesungguhnya merupakan salah kaprah terhadap ide internasionalisasi pendidikan.
Pak Syukri dan Pak Syukur telah mencerahkan hari saya dengan dua tema besar pendidikan yang sangat aktual dan karenanya saya belajar dari mereka. Meskipun berlatar belakang PAI saya belum banyake berpikir tentang pembelajaran PAI secara serius, meskipun menyadari bahwa ada persoalan besar di sana, yaitu pembelajaran PAI kita belum memuaskan hasilnya.
Hal yang sama juga berlaku dengan tema internasionalisasi. Meskipun pernah kuliah di Indonesia, di Selatan dan di Utara, belum banyak saya pikirkan soal pengaruh internasionalisasi pendidikan di Indonesia. Ide Syukur tentu membuka mata saya lebih jauh untuk aware soal itu.
Nah terbukti kan, dosen pun bisa belajar dari mahasiswanya.
Kedua, adalah Abd. Syukur. Keunikannya adalah dia merupakan rekan satu angkatan ketika kuliah di S1 dulu. Saat ini, Syukur tengah kuliah S2 dan bersiap menulis thesis. Tantang terberat di awal penulisan tesis adalah menemukan tema yang original dan layak ditulis. Setelah berpusing-pusing menelusuri berbagai kemungkinan tema, Syukur datang dengan sebuh ide cemerlang: Internasionalisasi pendidikan. Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah dalam mneginternasionalisasikan Pendidikan Nasional melalui pemebentukan SBI (sekolah bertaraf internasional) sesungguhnya merupakan salah kaprah terhadap ide internasionalisasi pendidikan.
Pak Syukri dan Pak Syukur telah mencerahkan hari saya dengan dua tema besar pendidikan yang sangat aktual dan karenanya saya belajar dari mereka. Meskipun berlatar belakang PAI saya belum banyake berpikir tentang pembelajaran PAI secara serius, meskipun menyadari bahwa ada persoalan besar di sana, yaitu pembelajaran PAI kita belum memuaskan hasilnya.
Hal yang sama juga berlaku dengan tema internasionalisasi. Meskipun pernah kuliah di Indonesia, di Selatan dan di Utara, belum banyak saya pikirkan soal pengaruh internasionalisasi pendidikan di Indonesia. Ide Syukur tentu membuka mata saya lebih jauh untuk aware soal itu.
Nah terbukti kan, dosen pun bisa belajar dari mahasiswanya.



0 Comments:
Post a Comment
<< Home